
Jessica adalah seorang sekretaris muda di suatu perusahaan perkayuan. Berparas cantik dan dikaruniai tubuh yang sempurna serta sepasang kaki yang indah. Kulit putih mulus mungkin memang warisan ibunya yang asli Menado. Punya seorang pacar, bekas teman sekolah, yang kini sedang kuliah di US. Usia belum genap 24 tahun, namun karirnya cukup pesat, hingga kini menjadi sekretaris divisi. Memang tidak sedikit rekan sekerjanya yg menganggap kemajuan karir tersebut karena aset tubuhnya yang molek.
Saat ini dia sedang duduk di depan komputernya, mengetikan surat, ketika boss-nya menelpon dari ruangan direktur. Jess menaikan alisnya, jarang-jarang boss besar memanggil. Dia berdiri dan merapikan rok coklatnya dan berjalan meuju kantor bossnya. Sang boss, Pak Jaya Hartono, 43 tahun namun masih sangat fit dan berpenampilan gagah dan trendi walau tidak tampan. Orangnya tegas dan disiplin namun Jessica sering mendengar gossip kalau Bapak yang satu ini gemar ‘main’ wanita. Tapi siapa yang tidak? Jessica tidak pernah ambil pusing tentang hal itu. Malah yang ia tahu, hampir semua wanita di kantor ini menganggapnya sangat menarik. Hmmm.. mungkin termasuk dirinya juga, senyum Jess teringat ia pernah bermasturbasi saat makan siang, membayangkan bercinta dengan sang boss.

Ruang kerja Pak Jaya sangat luas dan ditata mewah dan modern, lengkap dengan meja putih besar dan sofa-sofa kulit untuk menerima tamu. Seluruh lantainya marmer dan dindingnya dipenuhi dengan plakat dan penghargaan yang dicapai perusahaan. Pintunya terbuka, Jessica berdehem pelan sebelum masuk.
“Emm.. Bapak, panggil saya?” tanyanya entah kenapa, agak gugup.
“Ya.. tolong tutup pintu dan kunci, Jess.. Ini pembicaraan pribadi..” kata Pak Jaya, tanpa mengalihkan mata dari meja kerjanya. Jessica mengunci pintu dan berdiri menunggu di hadapan meja direktur. Pak Jaya menutup filenya dan memandanginya lekat-lekat. Kalimat selanjutnya sangat mengagetkan Jess, “Saya perhatikan, hari ini kamu berpakaian tidak sepantasnya..”
“Tidak sepantasnya..?” kebingungan membuat suara Jess seperti berbisik. Perlahan, sepeti orang tertangkap basah, ia melirik pakaiannya.
“Saya menerima keluhan dan keberatan tentang karyawan-karyawan pria yang tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan karena mereka jadi sibuk memandangi pakaian kamu yang menantang,” kata bossnya lagi. Jessica merasa pipinya memerah, sadar bahwa mungkin memang bajunya hari ini kelewat seksi untuk ke kantor. Di dalam blazer coklat mudanya, Jess mengenakan kemeja bergaris yang terbuka 3 kancing memperlihatkan sedikit bustier putih berenda. Kalau ia membungkuk untuk mengambil sesuatu, semua pria di kantor bisa mendapat pemandangan indah belahan montok payudaranya. Dipadankan lagi dengan rok mini, stocking warna kulit dan sepatu hak tinggi, kakinya yang panjang membuat rok itu makin pendek saja.

“Sa..saya minta maaf, Pak..” ucap Jessica, tidak tahu harus berkata apa. “Bapak mau saya ganti pakaian..?”
“Ya.. Saya mau kamu ganti pakaian..” kata Pak Jaya dengan senyuman mesum di wajahnya. “Sekarang juga..”. Jessica hanya tercengang.
“Maksud Bapak?” tanyanya kebingungan.
“Maksud saya, saya mau kamu lepas itu pakaian di sini, saat ini juga. Baju itu tidak pantas untuk masuk kerja.”
“Tapi.. Pak Jaya-” ucapan Jessica tak sempat usai, terpotong gebrakan meja Pak Jaya.
“Dengar!” sergahnya. “Saya pimpinan kamu dan kamu harus mengikuti perintah saya. Kalau menolak, silakan angkat kaki dari perusahaan ini..” senyuman Pak Jaya lenyap seketika. Ketegasan suara boss-nya membuat Jessica runtuh semangatnya, belum lagi ancaman pemecatan. Pasrah, dia mulai perlahan melepaskan blazernya.
“Tunggu..” potong Pak Jaya, “..balikan badan kamu. Saya perlu lihat seberapa pendek rok itu sampai menggangu karyawan lain..” Jessica menurut saja. “Bungkuk sedikit..” terdengar perintah dari belakangnya. “Jadi ini yang kamu kasih lihat orang-orang waktu buka laci-laci rendah tohh..” Mata Pak Jaya terfokus pada kemontokan pantat Jess dan pangkal pahanya yang mulus terbalut stocking. “Angkat rokmu sedikit..” decakan tidak sabar memotong protes Jessica. Terpaksa ditariknya ke atas rok coklat itu. Suara desahan nafas yang menyusul, menyadarkan Jess bahwa si boss sedang menikmati pemandangan selangkangannya yang terbalut celana dalam putih.

“Sekarang saya tahu.. kenapa orang-orang di kantor ini protes dan merasa konsentrasinya terganggu. Pakaian itu tidak bisa menutupi keindahan pinggulmu, Jess..” ujar Pak Jaya dengan nada genit. Kemarahan beliau sudah mereda. Namun kini Jessica yakin dirinya tengah menjadi korban pelecehan seksual. Tak ada akal dan keberaniannya untuk melawan, teringat biaya hidupnya yang penuh hura-hura dan tagihan kartu kredit yang masih menumpuk, dia tak bisa kehilangan pekerjaan ini.
“Kamu tahu ngga, Jess..” suara Pak Jaya menyadarkan Jessica dari lamunan. “..saya paling suka lihat cewek yang punya pantat montok dan kaki panjang..” tanpa melihat wajahnya pun Jessica yakin senyum mesum itu telah kembali. “Yaa.. seperti kamu ini.. apalagi kamu punya kulit yang putih muluss.. Rasamya jadi pengen ngelus-ngelus..”
“Oke.. kalo gitu kamu aja sendiri elus-elus itu itu bokong,” perintah Pak Jaya. “..dan sekalian lepas blazer dan rokmu, Neng!” Tanpa protes, blazer dan rok Jessica pun ditanggalkan. Mata Pak Jaya kian berbinar menyaksikan kemontokan pantat Jess yang kini lagi tidak tertutup rok. Tangannya mulai perlahan mengelus bagian belakang tubuhnya yang setengah telanjang. Sesekali Pak Jaya memberi perintah untuk menepuk, meremas dan mencubit pantat itu. “Sekarang.. coba elus selangkangan kamu..” nafas beliau terdengar mulai terengah.
Jessica merasa malu menyadari rasa takutnya telah sirna, berganti dengan debaran hati yang menaikan nafsu birahinya. Ia mulai menikmati sensasi sentuhan lembut pada bibir kemaluan yang terasa menembus stocking dan renda-renda celana dalamnya. Fantasinya melambung, membayangkan sang bos kini tengah mengocok penisnya sambil menonton dirinya bermasturbasi. Cairan gairah mulai membasahi liang kemaluannya dan melembabkan white-underwear itu.

Desahan dan decak kagum kembali terdengar dari arah meja Pak Jaya. “Indah sekali, Jess… indah sekali..” gumamnya. Tanpa melepaskan pandangannya dari adegan erotis itu, Pak Jaya bangkit dan berjalan mendekati Jessica. Jelas gairahnya sudah sukar ditahan lagi, ingin segera menggauli sekretarisnya yang seksi ini.
Tapi tiba-tiba telepon berdering, sementara menyelamatkan tubuh Jess dari gerayangan bossnya. “Hallo?” agak kesal Pak Jaya menjawab, “..Oh, kamu, Her.. ada apa?” suaranya tiba-tiba melunak, ternyata telepon dari Pak Herry, anggota dewan komisaris. Dia mendengarkan sebentar dan mencoba mengelak dengan alasan ada pekerjaan, tapi “..oke, oke kalau memang penting sekali, saya akan kesana. No problem.. Glad can help..” Tapi wajah beliau sama sekali tidak tampak senang setelah meletakkan gagang telepon.
“Sana kamu keluar dulu, saya harus pergi meeting dengan board..” ujarnya dengan nada masam. “Tapi, Jess..” Jessica menoleh saat bergegas keluar sambil mengenakan kembali pakaiannya, “..ingat.. saya belum selesai dengan kamu..” terdengar seperti ancaman. Pak Jaya pun kemudian bergegas keluar dari ruangannya untuk menghadiri rapat di gedung lain.
Jessica hampir-hampir tidak bisa mempercayai kejadian yang baru saja dialaminya. Terhenyak dia kembali ke kursi kerjanya, memikirkan pelecehan seksual yang baru saja menimpa. Bisa saja ia tadi diperkosa oleh bossnya sendiri. Rasa malunya muncul lagi mengenang gairahnya yang sempat menggelegak. Hampir diperkosa.. olehPak Jaya.. pikiran Jess mulai melayang.
Tanpa terasa ia mulai mengelus-elus lagi selakangannya. Sentuhan dan pijatan itu terasa nikmat menembusi celana dalam berenda Jessica. Nafasnya mulai memberat dan terengah seiring memuncaknya gairah. Sebelah tangan lain pun masuk ke bra, mulai meremasi dan memilin putingnya yang mengeras. Fantasi liarnya membayangkan tangan Pak Jaya sedang melakukan semua ini membuat jantung kian berdebar.

“Ohh.. ahhh.. Pak Jaya.. jangan Pak..” Jess mulai meracau, birahinya mulai tak tertahan. Ia sangat menikmati fantasi seks dimana dirinya sedang diperkosa bossnya. Remasan pada payudara kanannya makin keras, terbayang kekuatan tangan Pak Jaya yang atletis. Jess melorotkan stocking dan celana dalamnya, lalu memasukan jemarinya dalam-dalam ke memek yang sudah basah itu. “Aahhhk…” ia tersentak oleh sensasi liar saat jari itu menyentuh spot kepuasannya.
Sambil terpejam, Jess meneruskan gerakan jari maju mundur, mengocok liang kemaluannya. Makin lama makin cepat, gelombang demi gelombang gairah menerpa tubuhnya sampai ke ujung kaki. “Terus, Pak.. teruss…” lirih Jess melanjutkan fantasi. Dia menambahkan satu jari lagi mengisi liang vaginanya yang sempit. “Ohhh.. ohhh..” tubuh Jess meregang, wajah cantiknya terpejam menengadah ke langit-langit. “..bapaakk.. enakk.. pakk.. ahh.. ahhhk..” rintihan nafsunya keluar dari bibir seksi itu.
Keringat Jess deras mengalir, dan tubuhnya pun bergetar hebat. AC ruangan yang dingin tidak mampu meredakan panas gairah ini. Pinggul pun mulai bergerak naik turun, bercinta dengan jemarinya. Vagina Jess mulai terasa berdenyut-denyut. Akhirnya dia mendapat orgasme, teriring pekikan lirih dan desahan panjang. Sambil terengah-engah, dibasuhnya selangkangan yang basah kuyup itu. Sudah lama ia tidak pernah orgasme sehebat itu, apalagi semenjak sang pacar berangkat ke luar negeri. Nikmat sekali, masih terasa sensasinya sampai ke tulang-tulang kaki.
Jessica berbaring di mejanya, mencoba mengatur nafas, menghimpun kembali tenaganya. Tiba-tiba handphonenya berbunyi, menandakan ada sms masuk. Perlahan dia meraih telepon genggam itu dan mulai membaca pesan yang diterima. Debaran dadanya yang sudah tenang sontak berdegup kencang lagi, ternyata sms dari Pak Jaya! “JESS, KMU JGN PLG DL. SY AKAN LEMBUR DI KTR. ADA YG BLM SELESAI.”

Hati Jess tercekat, perasaannya campur aduk. Dia tahu sekali saat ini sedang tidak ada proyek yang perlu sampai lembur, tambahan lagi Pak Jaya tidak pernah suka bekerja lewat jam kantor. Kalau ada tugas penting yang mendadak, pasti akan diserahkan ke anak buahnya. Tapi hari ini dia sms akan lembur dan Jess harus menungguinya? Jess menghela nafas dan kembali membaringkan wajahnya di meja, melamun sambil memandangi hp-nya. Seulas senyum kecil menghiasi bibirnya sembari dia merapikan kembali pakaiannya. “BAIK, PAK. SY TUNGGU. ADA YG PERLU DSIAPKAN?” tak lama kemudian pesan tersebut sampai ke hp Pak Jaya..
BERSAMBUNG
Copyright Naughtyboy, 2007
ini cerita bikin sendiri atau daur ulang? gambarnya sih udah sesuai tuh
[Nb] – Mulainya (ide) dari cerita bhs Inggris/situs luar, tapi akhirnya rombak abis, ngarang sendiri supaya pas ama gambarnya..
Sekarang kayaknya cara kerja gw akan berubah.. cari serie gambar dulu baru cari ide cerita.. baru finetuning biar sesuai..
Wow dan wow wow.
Keren blog dikau, bro…
Keep going ya!
Komiknya juga keren! Salut!
[Nb] – wah, terima kasih udah mampir, bro! kehormatan nih buat gw, dikunjungi boss-nya RYT series! Trims supportnya.. let’s exchange blogroll/link kl ngga keberatan.. sama berguru bikin cerita yg mantap! Thx again..
http://www.2grl.com
[Nb] – Eh..? maksudnya nawarin hosting?
Blognya keren bro. Saran ya, mungkin untuk foto bisa lebih konsisten kalo buat penokohan. Misal untuk Citra series, kalo bisa foto ‘actress’nya jangan ganti2 bro (tetep).
Sukses ya blognya (juga komiknya)!!
[Nb] – Thanx, bro.. Itu dia susahnya bikin cerita yg illustrated.. jangankan bisa konsisten fotonya antar cerita.. kadang2 mesti diakalin dalam satu cerita pake foto yg sebenarnya berbeda model.. cari foto model yg series emg rada susah.. banyakan yg cuma pose sendirian atau malah cuma hardcore doang kaga ada pose biasa untuk ceritanya..
..tapi gw usaha terus deh..
Sambungannya mana Bro…
Akang demen pisan euy…baru pertama membaca Cerita Seru sambil ngeliatin gambarnya. Jadi bisa berfantasi euy…
Diantos ah sambungannya…
bagus juga bro. wah emang para mupengers harusnya jg kasih alamat web buat gambar dong . kasihan yang bikin cerita . udah cari gambar sembari bikin cerita .. bisa keluar dulu doi .
ah gambar ama ceritanya ga nyambung
wwwwalaahh…, kapan nyambungnya ini broo???